Sabtu, 12 November 2011
DILEMA KADERISASI
“Nggak ada dalilnya, kualitas yang bagus harus diapologikan dengan kuantitas yang sedikit.”
Dengan penuh semangat, pak Arief Munandar -yang tak mau bila kami panggil ustadz- memberikan closing statement dalam sebuah acara PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru) Fakultas Teknik. Saya yang sebenarnya bukan panitia, apalagi peserta, alhamdulillah sempat mendengarkan sayup-sayup nasehat beliau dari kejauhan dibawah pohon rindang samping KPFT.
Waktu itu, sambil menunggu rombongan KKN berangkat ke Kulonprogo, saya sempatkan untuk sekedar melihat wajah-wajah baru yang akan menggantikan wajah-wajah lama -seperti saya- ini. Entah kenapa, sebuah statement yang singkat tapi begitu dalam hingga selalu saya ingat sampai saat ini. Beliau mengatakan bahwa “Nggak ada dalilnya, kualitas yang bagus harus diapologikan dengan kuantitas yang sedikit.”
sering ada yang bertanya,
“kok peserta trainingnya sedikit?.”
“memang hanya orang-orang pilihan saja yang punya kesempatan untuk hadir.”
“kok yang daftar lembaga ini sedikit?”
“memang hanya mahasiswa militan saja yang akan terjaring masuk.”
Kuantitas memang bukan segalanya, toh ummat nabi Nuh bisa dihitung dengan jari, tapi menjadi generasi terbaik pada masanya. Hal lain yang mungkin jadi apologi adalah kekalahan ummat Islam dalam Perang Uhud meski dalam kuantitas yang banyak.
Bukan dari perspektif itu yang ingin saya bandingkan, memang sunnatullah nya, orang-orang yang akan memperjuangkan kebaikan ini tidak banyak. Jumlahnya masih relatif sedikit bila dibandingkan dengan musuh-musuh kebaikan. Coba bandingkan acara kajian di kampus dengan konser band akhir tahun!
Perspektif yang ingin saya sampaikan adalah, jangan sampai justru kita sendirilah yang menjadi penyebab minimnya kuantitas para penggerak dakwah di kampus. Kalau mereka berguguran, biarlah proses seleksi alam yang menuntutnya, bukan karena kesalahan atau ketidakseriusan kita mencetak wajah-wajah baru penerus dakwah kampus.
misal, dalam sebuah LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menginginkan agar yang masuk ke dalam lembaganya adalah mahasiswa yang benar-benar militan dan memiliki keinginan kuat untuk menjadi penggerak dakwah kampus, paling tidak mereka yang tarbawi-nya sudah sehat sejak SMA. Lalu tim kaderisasi lembaga dakwah tersebut kemudian menetapkan, open recruitmet hanya dibuka selama 2 hari dari jam sekian sampai jam sekian.
“kenapa singkat banget? padahal potensi mahasiswa baru di kampus ini cukup besar?”
“yah, itu sebagai bentuk seleksi awal kita supaya yang masuk ke lembaga ini benar-benar mahasiswa yang serius untuk menjadi anggota lembaga ini, bukan mereka yang asal-asalan hanya untuk memenuhi CV.”
iyakah seperti itu? lalu bagaimana dengan mereka (red: mahasiswa baru) yang di SMA nya belum kenal sama sekali apa itu dakwah? mereka yang di SMA nya nggak kenal dengan mentoring dan kajian-kajian keislaman?.
Padahal, mungkin dia baru kenal istilah dakwah ketika di kampus. dan ketika ingin mendaftar belum sempat mengambil form pendaftaran. Lalu ia bergumam,
“ah, ribet banget sih daftarnya, harus di jam-jam yang ada kelas kuliah. mesti ngisi ini itu lagi.”
Bagi mereka, yang memang suda terbina di SMA, mungkin tak ada masalah. Mereka akan punya keinginan kuat untuk mendaftar karena mereka tau urgensinya bergabung dengan sebuah lembaga dakwah. Akan tetapi coba lihat, mereka yang belum begitu tahu urgensinya dakwah, yang ingin coba-coba masuk LDK, mereka lalu beranggapan tak ada ruginya bila telat mendaftar dan tidak jadi anggota LDK tersebut dan ia pun tidak tahu apa sih urgensinya dakwah (kata-kata yang mungkin baru didengarnya di kampus).
Filter, yang kita buat diawal telah menghambat kesempatan seseorang untuk menjadi bagian dari penggerak dakwah ini. Padahal bisa jadi mereka yang terhambat itu memiliki potensi yang besar dikemudian hari untuk menjadi pendukung dan pelaku utama dakwah kampus ini.
Alhasil, jangan heran bila sering muncul keluhan,
“kok, yang menjadi tokoh-tokoh penting di lembaga kebanyakan anak-anak ‘transfer’ ya?”
Wajar….
karena yang diincar pertama kali, yang diperhatikan terus menerus, yang diharapkan menjadi penggerak dakwah kampus adalah anak-anak ‘transfer’ , sehingga mengesampingkan potensi lain yang sebenarnya jauh lebih besar. Lalu men-judge, mereka yang telat daftar di LDK, mereka yang nggak ikut wawancara, mereka yang nggak mengembalikan form adalah calon-calon anggota yang tidak miitan, sehingga tidak layak untuk menjadi anggota lembaga ini.
Padahal, inilah tantangannya, tidak hanya sekedar mendapat input yang bagus, akan tetapi sebuah sistem kaderisasi harus bisa menghasilkan ouput yang bagus dengan input yang beragam.
———
“……yasudah, terima saja yang mendaftar, biar alur kaderisasi yang akan menyeleksi mereka. karena kita butuh kualitas juga kuantitas “
iapun berlalu meninggalkan rapat itu….
by: salamic.wordpress.com
Dengan penuh semangat, pak Arief Munandar -yang tak mau bila kami panggil ustadz- memberikan closing statement dalam sebuah acara PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru) Fakultas Teknik. Saya yang sebenarnya bukan panitia, apalagi peserta, alhamdulillah sempat mendengarkan sayup-sayup nasehat beliau dari kejauhan dibawah pohon rindang samping KPFT.
Waktu itu, sambil menunggu rombongan KKN berangkat ke Kulonprogo, saya sempatkan untuk sekedar melihat wajah-wajah baru yang akan menggantikan wajah-wajah lama -seperti saya- ini. Entah kenapa, sebuah statement yang singkat tapi begitu dalam hingga selalu saya ingat sampai saat ini. Beliau mengatakan bahwa “Nggak ada dalilnya, kualitas yang bagus harus diapologikan dengan kuantitas yang sedikit.”
sering ada yang bertanya,
“kok peserta trainingnya sedikit?.”
“memang hanya orang-orang pilihan saja yang punya kesempatan untuk hadir.”
“kok yang daftar lembaga ini sedikit?”
“memang hanya mahasiswa militan saja yang akan terjaring masuk.”
Kuantitas memang bukan segalanya, toh ummat nabi Nuh bisa dihitung dengan jari, tapi menjadi generasi terbaik pada masanya. Hal lain yang mungkin jadi apologi adalah kekalahan ummat Islam dalam Perang Uhud meski dalam kuantitas yang banyak.
Bukan dari perspektif itu yang ingin saya bandingkan, memang sunnatullah nya, orang-orang yang akan memperjuangkan kebaikan ini tidak banyak. Jumlahnya masih relatif sedikit bila dibandingkan dengan musuh-musuh kebaikan. Coba bandingkan acara kajian di kampus dengan konser band akhir tahun!
Perspektif yang ingin saya sampaikan adalah, jangan sampai justru kita sendirilah yang menjadi penyebab minimnya kuantitas para penggerak dakwah di kampus. Kalau mereka berguguran, biarlah proses seleksi alam yang menuntutnya, bukan karena kesalahan atau ketidakseriusan kita mencetak wajah-wajah baru penerus dakwah kampus.
misal, dalam sebuah LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menginginkan agar yang masuk ke dalam lembaganya adalah mahasiswa yang benar-benar militan dan memiliki keinginan kuat untuk menjadi penggerak dakwah kampus, paling tidak mereka yang tarbawi-nya sudah sehat sejak SMA. Lalu tim kaderisasi lembaga dakwah tersebut kemudian menetapkan, open recruitmet hanya dibuka selama 2 hari dari jam sekian sampai jam sekian.
“kenapa singkat banget? padahal potensi mahasiswa baru di kampus ini cukup besar?”
“yah, itu sebagai bentuk seleksi awal kita supaya yang masuk ke lembaga ini benar-benar mahasiswa yang serius untuk menjadi anggota lembaga ini, bukan mereka yang asal-asalan hanya untuk memenuhi CV.”
iyakah seperti itu? lalu bagaimana dengan mereka (red: mahasiswa baru) yang di SMA nya belum kenal sama sekali apa itu dakwah? mereka yang di SMA nya nggak kenal dengan mentoring dan kajian-kajian keislaman?.
Padahal, mungkin dia baru kenal istilah dakwah ketika di kampus. dan ketika ingin mendaftar belum sempat mengambil form pendaftaran. Lalu ia bergumam,
“ah, ribet banget sih daftarnya, harus di jam-jam yang ada kelas kuliah. mesti ngisi ini itu lagi.”
Bagi mereka, yang memang suda terbina di SMA, mungkin tak ada masalah. Mereka akan punya keinginan kuat untuk mendaftar karena mereka tau urgensinya bergabung dengan sebuah lembaga dakwah. Akan tetapi coba lihat, mereka yang belum begitu tahu urgensinya dakwah, yang ingin coba-coba masuk LDK, mereka lalu beranggapan tak ada ruginya bila telat mendaftar dan tidak jadi anggota LDK tersebut dan ia pun tidak tahu apa sih urgensinya dakwah (kata-kata yang mungkin baru didengarnya di kampus).
Filter, yang kita buat diawal telah menghambat kesempatan seseorang untuk menjadi bagian dari penggerak dakwah ini. Padahal bisa jadi mereka yang terhambat itu memiliki potensi yang besar dikemudian hari untuk menjadi pendukung dan pelaku utama dakwah kampus ini.
Alhasil, jangan heran bila sering muncul keluhan,
“kok, yang menjadi tokoh-tokoh penting di lembaga kebanyakan anak-anak ‘transfer’ ya?”
Wajar….
karena yang diincar pertama kali, yang diperhatikan terus menerus, yang diharapkan menjadi penggerak dakwah kampus adalah anak-anak ‘transfer’ , sehingga mengesampingkan potensi lain yang sebenarnya jauh lebih besar. Lalu men-judge, mereka yang telat daftar di LDK, mereka yang nggak ikut wawancara, mereka yang nggak mengembalikan form adalah calon-calon anggota yang tidak miitan, sehingga tidak layak untuk menjadi anggota lembaga ini.
Padahal, inilah tantangannya, tidak hanya sekedar mendapat input yang bagus, akan tetapi sebuah sistem kaderisasi harus bisa menghasilkan ouput yang bagus dengan input yang beragam.
———
“……yasudah, terima saja yang mendaftar, biar alur kaderisasi yang akan menyeleksi mereka. karena kita butuh kualitas juga kuantitas “
iapun berlalu meninggalkan rapat itu….
by: salamic.wordpress.com
tausiyah....
Bukan keras bagai batu karang diterpa ombak...
Bukan pula kokohnya tanah liat yang tahan di bakar api...
tetapi kita ingin seperti elastisnya karet...
kokoh namun dinamis meski ada guncangan,,,
bergeser namun tetap dalam satu bangunan dan akan tetap di jalurnya....
Milikilah elastisitas yang tinggi..
tahan akan guncangan, tangguh dan adaptif di manapun berpijak....
by : nadia rahmawati
Bukan pula kokohnya tanah liat yang tahan di bakar api...
tetapi kita ingin seperti elastisnya karet...
kokoh namun dinamis meski ada guncangan,,,
bergeser namun tetap dalam satu bangunan dan akan tetap di jalurnya....
Milikilah elastisitas yang tinggi..
tahan akan guncangan, tangguh dan adaptif di manapun berpijak....
by : nadia rahmawati
Jumat, 14 Oktober 2011
Kamis, 13 Oktober 2011
BELAJAR....
ke sekolah kita BELAJAR
ke kampus kita BELAJAR
ke masjid kita BELAJAR
ke pesantren kita BELAJAR
bersosialisasi dengan lingkungan kita BELAJAR
muhasabah pun kita BELAJAR
Subhanallah...
ternyata kata-kata BELAJAR itu bisa kita terapkan dimana saja dan kapan saja
tinggal bagaimana kita memaknainya dan meniatkannya
So...
Ayo SEMANGAT kan diri kita untuk terus BELAJAR.BELAJAR.dan BELAJAR
^_^
PILIHAN
Setiap manusia adalah seorang da'i....
Kita memiliki pekerjaan mulia untuk menjadi seorang da'i....
Setiap dari kita adalah khalifah di muka bumi ini..
Suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya...
Namun.....
Menjalankan tugas mulia di atas adalah pilihan bagi kita...
Pilihan untuk menjalankan dengan keikhlasan dan TOTALITAS
Atau memilih untuk menjalankan hanya sebagai kewajiban semata
Tanpa disertai ruh keikhlasan dalam diri...
Menjadikan tugas mulia di atas hanya sebagai pengisi waktu luang saja
atau mungkin menjadikan tugas di atas untuk meraih keuntungan pribadi
Atau bahkan lebih ekstrim lagi
Kita tidak mengakui tugas mulia di atas adalah tugas kita sebagai hamba Allah
Sehingga lebih memilih untuk mengacuhkan dan masa' bodoh
ya....
Hidup adalah pilihan
Mau pilih jalan mana terserah masing-masing pribadi
Allah telah memberikan akal pikiran, qolbu kepada kita
maka pilihlah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya
Semoga kita termasuk orang yang memilih untuk selalu berkomitmen berada di jalan-Nya
dan terus menegakkan panji-panji Allah di muka bumi ini
ALLAHU AKBAR
Wallahu'alam
SEMANGAT !!
Kita memiliki pekerjaan mulia untuk menjadi seorang da'i....
Setiap dari kita adalah khalifah di muka bumi ini..
Suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya...
Namun.....
Menjalankan tugas mulia di atas adalah pilihan bagi kita...
Pilihan untuk menjalankan dengan keikhlasan dan TOTALITAS
Atau memilih untuk menjalankan hanya sebagai kewajiban semata
Tanpa disertai ruh keikhlasan dalam diri...
Menjadikan tugas mulia di atas hanya sebagai pengisi waktu luang saja
atau mungkin menjadikan tugas di atas untuk meraih keuntungan pribadi
Atau bahkan lebih ekstrim lagi
Kita tidak mengakui tugas mulia di atas adalah tugas kita sebagai hamba Allah
Sehingga lebih memilih untuk mengacuhkan dan masa' bodoh
ya....
Hidup adalah pilihan
Mau pilih jalan mana terserah masing-masing pribadi
Allah telah memberikan akal pikiran, qolbu kepada kita
maka pilihlah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya
Semoga kita termasuk orang yang memilih untuk selalu berkomitmen berada di jalan-Nya
dan terus menegakkan panji-panji Allah di muka bumi ini
ALLAHU AKBAR
Wallahu'alam
SEMANGAT !!
cOmE bACK ......
Assalamu'alaikum....
pa kabar kawand ?
Alhamdulillah...akhirnya kembali ke blog ku lagi setelah sudah beberapa bulan vakum...
Bismillah...
semoga blog ini mampu menjadi sarana dakwah dan bermanfaat bagi semuanya
amiin.....
Wassalamu'alaikum
pa kabar kawand ?
Alhamdulillah...akhirnya kembali ke blog ku lagi setelah sudah beberapa bulan vakum...
Bismillah...
semoga blog ini mampu menjadi sarana dakwah dan bermanfaat bagi semuanya
amiin.....
Wassalamu'alaikum
Langganan:
Postingan (Atom)

